
Lensakawanua.Com – MINAHASA SELATAN – Alam kembali menunjukkan kekuatannya. Akses vital yang menghubungkan Desa Maliku, Maliku Satu, dan Kotamenara menuju jantung Kabupaten Minahasa Selatan sempat terhenti seketika pada Sabtu (7/3/2026).
Dua titik strategis terkubur tumpukan material tanah dan pepohonan, menciptakan penghalang yang melumpuhkan nadi transportasi warga.
Pemandangan mencekam berupa antrean panjang kendaraan sempat mewarnai lokasi kejadian.
Namun, di tengah keputusasaan itu, secercah harapan muncul dari semangat Mapalus Masyarakat Desa Maliku Raya yang tak kunjung Padam.
Tanpa menunggu komando lama, Pemerintah Desa Maliku dan Maliku Satu bersinergi dengan Babinsa Serda Stefendy Tutu bersama Masyarakat. Di bawah guyuran sisa hujan, warga bahu-membahu menantang maut.
Selama empat jam penuh peluh, mereka bertarung melawan tumpukan tanah dan batang pohon hanya dengan peralatan seadanya.
“Ini bukan sekadar kerja bakti, ini adalah bukti nyata bahwa persatuan adalah teknologi tercanggih yang kami miliki saat ini,” ungkap Serda Stefendy Tutu di lokasi.

Kepemimpinan yang solid ditunjukan oleh Hukum Tua Desa Maliku, Fendi Y. Werupangkey, SE, dan Hukum Tua Desa Maliku Satu, Alce Manengkey.
Keduanya turun langsung memastikan keselamatan warga dan memuji dedikasi tanpa pamrih dari personel TNI serta masyarakat.
Respons Cepat: Aksi tanggap darurat berhasil memulihkan akses sebelum malam kian larut.
Solidaritas: Kolaborasi apik antara Pemerintah Desa, Babinsa, dan masyarakat umum.
Meski roda kendaraan kini telah kembali berputar, bayang-bayang bahaya belum sepenuhnya sirna.
Kondisi tebing yang labil dan curah hujan yang tak menentu menjadi ancaman laten bagi setiap nyawa yang melintas.
Pemerintah Desa dan masyarakat kini melayangkan seruan elegan namun tegas kepada Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan:
Mobilisasi Alat Berat: Pembersihan sisa material secara teknis dan permanen sangat mendesak.
Mitigasi Bencana: Penanganan struktur tebing diperlukan guna mencegah tragedi longsor susulan.
Langkah cepat dinas terkait sangat dinantikan sebelum alam kembali menguji ketangguhan infrastruktur di bumi Minsel. (*Rei)

