Slow Tourism, Wisata Rendah Jejak Karbon, Kian Diminati dan Dihargai

Bumi Perkemahan Tanakita – Slow tourism mengutamakan kedekatan dengan alam dan masyarakat sekitar (Dokumentasi Tanakita)

VOA — Sejak pandemi, terjadi perubahan nyata dalam preferensi perjalanan liburan. Liburan bergaya serba cepat dan checklist, yang terinspirasi oleh judul-judul seperti “10 Tempat yang Wajib Dikunjungi Sebelum Meninggal” kini menjadi kurang diminati. Sebaliknya, konsep “perjalanan lambat” sebuah gaya perjalanan yang menekankan interaksi yang lebih dalam dan bermakna dengan budaya lokal, ketimbang pengalaman dangkal (superficial), semakin digandrungi.

Pada tahun 2024, konsep perjalanan lambat, yang juga dikenal sebagai wisata pelan-pelan (slow tourism) tidak hanya diterima secara luas, tetapi juga sangat dihargai, mengingat kontribusinya yang besar pada lingkungan.

“Waktu seolah berhenti, tidak melakukan apapun terasa menyenangkan,” kata Eko Binarso, pendiri Tanakita, sewaktu menceritakan reaksi sejumlah tamunya saat berada di bumi perkemahan yang dibangun bersama sejumlah rekannya.

Klik gambar untuk berita selengkapnya…

Next Post

Indonesia Dukung Keputusan ICJ agar Israel Hentikan Operasi Militer di Rafah

Wed May 29 , 2024
Pemerintah Indonesia pada hari Minggu (26/5) menyampaikan dukungan atas keputusan Mahkamah Internasional PBB yang pada Jumat lalu (24/5) memerintahkan Israel untuk segera menghentikan operasi militernya di kota Rafah, di selatan Gaza. Kementerian Luar Negeri Indonesia lewat X menyatakan “mendukung keputusan Mahkamah Internasional yang menginstruksikan Israel untuk segera menghentikan operasi militernya […]

Anda suka ini