
VOA — Sejak pandemi, terjadi perubahan nyata dalam preferensi perjalanan liburan. Liburan bergaya serba cepat dan checklist, yang terinspirasi oleh judul-judul seperti “10 Tempat yang Wajib Dikunjungi Sebelum Meninggal” kini menjadi kurang diminati. Sebaliknya, konsep “perjalanan lambat” sebuah gaya perjalanan yang menekankan interaksi yang lebih dalam dan bermakna dengan budaya lokal, ketimbang pengalaman dangkal (superficial), semakin digandrungi.
Pada tahun 2024, konsep perjalanan lambat, yang juga dikenal sebagai wisata pelan-pelan (slow tourism) tidak hanya diterima secara luas, tetapi juga sangat dihargai, mengingat kontribusinya yang besar pada lingkungan.
“Waktu seolah berhenti, tidak melakukan apapun terasa menyenangkan,” kata Eko Binarso, pendiri Tanakita, sewaktu menceritakan reaksi sejumlah tamunya saat berada di bumi perkemahan yang dibangun bersama sejumlah rekannya.
Klik gambar untuk berita selengkapnya…

