
VOA – Lima hari setelah pesawat Singapore Airlines mengalami turbulensi parah yang menewaskan salah seorang penumpang dan melukai 104 lainnya, pesawat Qatar Airways mengalami nasib serupa Minggu lalu (26/5). Mengapa turbulensi semakin sering terjadi, dan haruskah kita khawatir saat naik pesawat terbang?
“Saya baik-baik saja sekarang, saya sudah tenang. Tetapi tadi sangat menakutkan ketika pesawat sepertinya berhenti terbang, tapi ternyata tidak, dan tiba-tiba turun tajam… turun sangat tajam. Beruntung kapten berhasil menguasai pesawat dengan cepat dan tidak terus turun.”
Cheryl Suker menceritakan dengan sedikit terbata-bata situasi di dalam pesawat Qatar Airways QR017 dari Doha menuju Dublin, yang mengalami turbulensi parah saat melintasi wilayah udara Turki pada hari Minggu. Suker selamat karena ia dan suaminya tetap mengenakan sabuk pengaman selama penerbangan Boeing B787-9 itu. Tetapi enam penumpang lain dan enam awak pesawat luka-luka, dan langsung dilarikan ke rumah sakit setibanya pesawat di Dublin, Irlandia.
Peristiwa ini hanya berselang lima hari dari turbulensi parah serupa yang dialami pesawat Singapore Airlines 321 dari London menuju Singapura, yang mengalami turbulensi saat terbang di atas wilayah udara Myanmar pada 21 Mei lalu. Satu orang penumpang berkewarganegaraan Inggris meninggal, diduga akibat serangan jantung, sementara 104 lainnya luka-luka.
Klik gambar untuk berita selengkapnya…

