Ironi Pesta Rakyat: Kontras “Bread and Circuses” dan Jalan Sunyi Visi Blue Ekonomi Ala Gubernur YSK

Catatan Reflektif Oleh Douglas (Pegiat Literasi)

#Lensakawanua.Com_ Sulut_ Gemerlap Ironi di Pohon Kasih Malam 8 November kemarin, kawasan Pohon Kasih (Pokas) Megamas, Manado, bermandikan cahaya. Bukan cahaya refleksi spiritual, melainkan kilauan lampu panggung yang megah.

Pemandangan itu adalah pesta rakyat yang dikemas oleh para elit, khususnya HaBeL dan Ely, menampilkan sederet bintang ibu kota, Judika dan Wisnu Cantika. Namun, di balik gemerlap yang membius mata, tersimpan sebuah ironi sosial dan politik yang getir, sebuah pertanyaan fundamental tentang prioritas dan kepedulian sejati terhadap masa depan Sulawesi Utara.

‘Kamuflase’ Politik yang Nyata Pesta itu, meski berlabel “pesta rakyat,” terasa lebih seperti etalase politik yang dipersiapkan dengan matang. Kehadiran Ketua Umum Partai ‘biru’, AHY, mempertegas dugaan bahwa euforia massa malam itu adalah pengerahan energi politik, bukan semata-mata perayaan kultural. Seluruh kemegahan yang tersaji bukanlah tanpa biaya. Sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tercatat menjadi sponsor, mengalirkan dana yang mestinya disalurkan untuk kepentingan publik yang lebih substansial.

Inilah manifestasi sempurna dari teori politik klasik yang dikenal sebagai Panem et Circenses atau “Roti dan Hiburan” (Bread and Circuses). Berasal dari Kekaisaran Romawi kuno, filosofi ini menunjukkan bagaimana elit penguasa mempertahankan kekuasaan dan meredam protes publik dengan menyediakan kebutuhan dasar (roti/makanan) dan, yang lebih penting, hiburan massal (sirkus/gladiator). Pesta rakyat di Pokas berfungsi sebagai sirkus modern; memicu kegembiraan sesaat agar rakyat lupa sejenak pada persoalan ekonomi yang mendera.

Saat rakyat Sulut, dan bangsa ini secara umum, masih berjuang keras untuk “mikiran rupiah” demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, pesta ini justru menjadi ajang penghamburan uang. Kontras antara gemerlap panggung elit dan kelamnya dapur rakyat jelata menjadi pemandangan yang menyakitkan. Dana yang dibakar untuk lampu dan sound system malam itu bisa dialokasikan untuk program ekonomi mikro yang lebih menyentuh akar rumput.

Jalan Sunyi Sang Gubernur di sisi kontras yang nyaris tak terdengar, Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus Komaling (YSK), justru memilih “jalan sepi.” YSK tidak hadir dalam keriuhan lampu remang-remang Megamas. Tindakan beliau diam-diam, jauh dari sorotan kamera dan tepuk tangan massal, terfokus pada kepentingan strategis jangka panjang masyarakat Sulut.

Fokus YSK adalah pada “ekonomi biru” (blue economy), sebuah visi masa depan yang melihat potensi laut sebagai motor penggerak kesejahteraan Sulut. Ini adalah langkah konkret yang membutuhkan diplomasi tingkat tinggi, bukan sekadar joget ria di Megamas. Beliau secara intensif meminta Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk turun tangan, memastikan investasi dan keberlanjutan sektor perikanan dan maritim. Ini adalah investasi jangka panjang yang hasilnya baru akan dinikmati rakyat di kemudian hari.

YSK juga menunjukkan kepedulian pada kebanggaan publik yang otentik. Ia fokus membangkitkan “Badai Biru,” julukan untuk klub sepak bola Persma Manado. Revitalisasi Persma adalah upaya membangun kembali identitas dan harga diri kultural masyarakat Manado, sebuah proyek yang jauh lebih bernilai spiritual dan sosial ketimbang konser sesaat. Ini adalah “biru” yang sesungguhnya berpihak pada rakyat, bukan “Partai Biru” yang hanya mencari eforia.

Prioritas yang Berbeda Puncaknya terlihat pada malam yang sama. Ketika “Partai Biru” dan elit pendukungnya kasat-kusut joget ria di Megamas, Gubernur YSK berada di Bandung, mengunjungi dan berdialog dengan mahasiswa Sulut. Aksi ini menunjukkan perbedaan prioritas yang mencolok: berinvestasi pada sumber daya manusia dan masa depan intelektual Sulut versus berinvestasi pada popularitas elektoral sesaat.

Pesta yang didominasi oleh Partai Biru adalah contoh kamuflase politik yang sempurna. Kamuflase ini bekerja dengan mengalihkan perhatian dari isu-isu substantif—seperti kinerja pemerintahan, pengawasan anggaran BUMN, atau program ekonomi konkret—kepada citra yang menarik, mudah dicerna, dan menghibur. Mereka menggunakan kesenian sebagai alat untuk mencapai tujuan politik.

Keterlibatan sejumlah BUMN sebagai sponsor menambah lapisan ironi. BUMN adalah alat negara untuk kepentingan rakyat, bukan untuk membiayai panggung kampanye terselubung. Penggunaan uang publik, melalui entitas negara, untuk menopang agenda politik pribadi dan partai adalah tindakan yang patut dipertanyakan dari perspektif etika dan akuntabilitas.

Pohon Kasih (Pokas), yang seharusnya menjadi simbol kerukunan, ketenangan, atau ruang refleksi komunitas, justru diubah menjadi arena “pesta duniawai” yang riuh. Ruang publik yang seharusnya netral dan inklusif kini terdistorsi menjadi panggung politik satu arah, menandai pengambilalihan ruang publik oleh kepentingan elit.

Pendekatan “Roti dan Hiburan” yang dianut oleh Partai Biru membawa konsekuensi berbahaya dalam jangka panjang. Ia menciptakan masyarakat yang apatis dan mudah terpuaskan, yang kehilangan daya kritisnya terhadap para pemimpin. Selama ada hiburan, protes dikesampingkan. Ini adalah strategi yang menghambat perkembangan demokrasi yang matang dan berorientasi pada isu.

Filosofi kepemimpinan YSK—fokus pada ekonomi biru, kebangkitan Persma, dan kunjungan mahasiswa—mencerminkan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada hasil dan pembangunan berkelanjutan (sustainability). Sebaliknya, pendekatan Partai Biru mencerminkan kepemimpinan yang berorientasi pada citra, popularitas instan, dan branding elektoral.

Pertanyaan mendasar yang harus direnungkan publik adalah: Siapa yang sebenarnya peduli pada investasi masa depan Sulut? Apakah mereka yang menghamburkan uang di panggung megah untuk eforia saat itu, atau mereka yang memilih jalan sunyi, berjuang untuk ekonomi biru di tingkat kementerian dan membangun aset kultural di tengah masyarakat?

Gubernur YSK memang pantas diapresiasi. Dalam kontras yang tajam ini, ia menunjukkan bahwa kepedulian investasi masa depan Sulut tidak diukur dari seberapa terangnya lampu di panggung, melainkan dari seberapa dalam dan seriusnya upaya membangun fondasi ekonomi dan sosial yang kokoh. YSK menunjukkan integritas dalam memilih substansi di atas sensasi.

Epilog

Di saat tirai panggung gemerlap di Megamas telah ditutup, menyisakan sampah visual dan kelelahan sesaat, hasil dari “jalan sepi” yang ditempuh Gubernur YSK akan terus bergulir. Badai Biru akan bangkit, laut akan memberi hasil, dan pelajar akan membawa pulang ilmu. Kita harus belajar membedakan mana emas yang sesungguhnya dan mana kilauan yang ditiru; mana kepedulian tulus dan mana kamuflase politik yang terbungkus rapi dalam janji-janji hiburan massal.(*Team)

Next Post

Tumbuhkan Budaya Literasi, Mahasiswa KKN Tematik Literasi UNIMA Gelar Lomba Kreatif di Desa Tumpaan Dua

Fri Nov 14 , 2025
‎LensaKawanua.Com _Tumpaan Dua_ (Minsel)-Rangkaian kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi Universitas Negeri Manado (UNIMA) angkatan 2025 di Desa Tumpaan Dua, Kecamatan Tumpaan, Kabupaten Minahasa Selatan, menuai sukses dan apresiasi positif. Program pengabdian ini fokus pada penanaman budaya literasi dan kreativitas sejak dini kepada anak-anak di desa tersebut. ‎Kegiatan ini […]

Anda suka ini